Rabu, 26 Januari 2022

Perubahan Karakter Siswa Dampak Pembelajaran Daring

Ada banyak tempat yang dekat dengan siswa dalam menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh, khususnya untuk para siswa dan guru yang tinggal di daerah – daerah terpencil, mereka yang tinggal di pedalaman, ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang tidak mendukung orang tua peserta didik untuk memiliki Ponsel cerdas HP dan harus membeli kuota internet guna mengakses internet setiap hari.ada batasan yang tidak dapat dicapai oleh teknologi yang lebih dari itu semua, bahwa teknologi tidak dapat memasukkan salah satu inti dari pendidikan, yaitu pendidikan karakter guru harus mampu membuat model dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa di sekolahnya. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh siswa dalam menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh, khususnya untuk para siswa dan guru yang tinggal di daerah – daerah terpencil, mereka yang tinggal di pedalaman, ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan orang tua peserta didik untuk memiliki HP telephone dan harus membeli kuota internet guna mengakses internet setiap hari.

Toleransi adalah sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya, berikut ini pelaksanaan sikap toleransi siswa :

1.        Pelaksanan di sekolah :

  • Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan  suku, agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas. Beberapa karakter yang dapat diterapkan di sekolah dan di dalam kelas adalah sebagai berikut :
  • Karakter Religius : sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup

Di dalam buku pedoman yang disusun oleh Pusat Kurikulum tentang Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (2010), karakter didefinisikan sebagai suatu ’ethical excellence’ atau akhlak yang dibangun di atas berbagai kebajikan (virtues) yang pada gilirannya hanya memiliki makna ketika dilandasi atas nilai‐nilai yang berlaku dalam Pada ayat di atas, dijelaskan bahwa pendidikan yang paling ditekankan adalah pendidikan karakter yang dilakukan orang tua dari rumah, karena pendidikan dari orang tua merupakan pendidikan yang paling pertama  didapatkan oleh seorang anak sebelum mendapatkan pendidikan dari luar seperti sekolah atau madrasah. Disamping itu pada ayat selanjutnya  secara terang-terangan menjelaskan kepada kita tentang prinsip-prinsip dasar dari materi pendidikan karakter yang sangat kuat yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan yang nantinya akan membentuk karakter seorang anak untuk menjadi bekal bagi anak tersebut.

Tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Dan ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa orang tua sebagai orang dewasa yang ada di rumah dan sebagai guru pertamanya peserta didik, harus melarang kita untuk berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Mengemukakan hasil penelitian, yakni siswa-siswa dalam sebuah pembelajaran jarak jauh mengalami perkembangan karakter yang positif di beberapa tempat :

Secara keseluruhan performance character developments and strengths dalam bentuk disiplin diri, arah diri, pendekatan yang lebih analitis dan mendalam terhadap pembelajaran. Guru yang secara resmi mengajar di sekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dari orang tua dan orang dewasa yang ada di rumah dan di sekitarnya (network based totally education). Jika sebelumnya ada banyak sekali sekolah yang sudah menggunakan teknologi dalam pembelajaran, maka dalam kondisi yang tidak biasa ini, semua sekolah di Indonesia dipaksa untuk menerapkan teknologi dalam proses belajar mengajar. Jika sebelumnya ada banyak sekolah yang sudah menggunakan teknologi dalam pembelajaran, maka dalam kondisi yang tidak biasa ini, semua sekolah di Indonesia dipaksa untuk menerapkan teknologi dalam proses belajar mengajar.

Mengesampingkan keterbatasan di atas, artikel ini ingin menyampaikan bahwa ada kendala yang tidak dapat dijangkau oleh teknologi yang lebih dari itu semua, bahwa teknologi tidak dapat menyentuh salah satu inti dari pendidikan, yaitu pendidikan karakter. Terkait belajar dari rumah mendikbud menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (berani) atau jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang dekat bagi siswa, tanpa terbebani data yang menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan. Pendidikan karakter Ketika pendidikan harus menerapkan pembalajaran jarak jauh, ketika siswa harus belajar dari rumah, ketika guru harus mengajar dari rumah, maka siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter siswa?

Penelitian yang penulis lakukan dengan jumlah responden sebanyak 178 orang tuam murid dari tingkat TK sampai dengan SMA menunjukan bahwa orang tua siswa setuju untuk mengatakan bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya melakukan pendidikan karakter terhadap anaknya tanpa bantuan guru. Kedua bahwa setiap rumah yang digunakannya menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga, khususnya anak – anak, untuk mendapatkan sikap spiritual, pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa depan. Ketika  pendidikan harus menerapkan pembalajaran jarak jauh, ketika siswa harus belajar dari rumah, ketika guru harus mengajar dari rumah, maka siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter siswa?   Anak mempunyai minat yang kuat terhadap hal-hal yang kecil atau terperinci yang seringkali kurang penting/bermakna.dan anak juga  ingin aktif, belajar, dan berbuat.

Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki warga negara Indonesia berdasarkan tindakan‐tindakan yang dinilai sebagai suatu kebajikan sesuai nilai yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Pelaksanaan di dalam kelas :

  • Memberikan pelayanan yang sama terhadap seluruh warga kelas tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan status ekonomi.

Sejalan dengan perkembangan jaman juga di ikuti dengan pergeseran moral sebagai karakter/ budaya negara timur, baik yang datang dari negara kita sendiri maupun budaya atau karakter yang dibawa dari negara asing. Tuntuan karakter siswa yang harus dibentuk adalah mengimplementasikan nilai-nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, bergotong royong, dan kreatif untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Dalam pelaksanaan pendidikan karakter tidak dapat berdiri sendiri tetapi berintegrasi dengan pelajan-pelajaran yang ada dengan memasukkan nilai-nilai karakter dan budaya. Karakter yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang ada di SD.

Pilihan moda Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan sebuah transisi kegiatan belajar mengajar dari yang seharusnya dilakukan secara tatap muka di sekolah, sebab dikarenakan adanya pandemi Covid-19 maka kegiatan sekolah pun harus dialihkan menjadi jarak jauh, baik secara luring maupun daring. Kedua bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga, khususnya anak – anak, untuk bisa memperoleh sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa depan.

        Karakter sangat erat hubungannnya dengan nilai nilai agama, kejiwaan, akhlak dan budi pekerti seseorang yang membedakan terhadap yang lainnya. Karakter anak adalah suatu proses bagaimana cara pola berpikir dan berperilaku seseorang yang merupakan mencerminkan dirinya baik secara individu maupun secara bersama sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat dan bernegara. Masyarakat belum menganggap kelas online dapat membantu dalam pendidikan anak meskipun, saat ini telah banyak bermunculan  start-up yang bergerak dalam bidang pendidikan on line.  Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Walaupun banyak sekolah menerapkan belajar dari rumah, bukan berarti guru hanya memberikan pekerjaan kepada peserta didik, tetapi juga ikut andil dan berkomunikasi membantu peserta didik dalam tugas-tugas mereka.

Anak kaya akan imaginasi, dorongan ini dapat dikembangkan dalam pengalaman-pengalaman seni yang dilaksanakan dalam pembelajaran sehingga dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Mendikbud menganjurkan bagi daerah yang sudah belajar dari rumah agar dipastikan guru juga mengajar dari rumah untuk menjaga keamanan para guru. Pendidikan karakter efektif jika dilakukan dengan pembiasaan nilai moral luhur kepada peserta didik dan membiasakan mereka dengan kebiasaan (addiction) yang sesuai dengan karakter kebangsaan. Bukti atau produk yang belajar diberi peringkat umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor / nilai kuantitatif. Pendidikan karakter pada anak dapat diproses dalam pembentukkan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritual, dan kepribadian.

Sebelum pandemi, orangtua cenderung menyerahkan begitu saja pendidikan anak-anak mereka ke sekolah, sekarang hampir setiap pihak memiliki peran yang penting dan seimbang untuk keberhasilan pendidikan siswa. Mendikbud menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring)/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Adapun aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk dalam hal kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Adapun aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk dalam hal akses / fasilitas belajar di rumah.

Melihat definisi yang dikutip oleh Koesoema (2010) bahwa karakter sebagai suatu proses yang dikehendaki, maka pendidikan memungkinkan untuk melakukan perubahan atas perilaku seseorang. Perubahan zaman dapat mempengaruhi proses belajar mengajar Saat ini pembelajaran dilakukan di rumah, bukan di sekolah dan juga bukan di kelas tatap muka. Masyarakat belum menganggap kelas online dapat membantu dalam pendidikan anak meskipun, saat ini telah banyak bermunculan start-up yang bergerak dalam bidang pendidikan on line. Mendikbud mengajurkan bagi daerah yang sudah melakukan belajar dari rumah agar dipastikan guru juga mengajar dari rumah untuk menjaga keamanan para guru. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.

Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholder tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan  status ekonomi.  Al Quran sendiri banyak menjelaskan tentang pendidikan Islam seperti di surat Al Lukman ayat 13 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya Wahai anakku!

Pelaksanan di sekolah :

  • Membuat laporan setiap kegiatan  yang dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis. Guru harus terbiasa mengajar dengan memanfaatkan media daring kompleks yang harus dikemas dengan efektif, mudah diakses, dan dipahami oleh siswa.

Pelaksanaan di dalam kelas seperti berdoa sebelum dan sesudah pelajaran :

  • Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya dan
  • Suka meremehkan orang lain. Selanjutnya untuk prinsip pembelajaran di tengah pandemi itu ada empat hal yang harus difokuskan yaitu kenalkan, internalisasi, terapkan, dan biasakan.

Oleh karena itu pendidikan karakter itu penting dalam membentuk manusia yang cerdas seutuhnya. Perkenalan itu adalah tahap memberikan pemahaman tentang nilai-nilai agama, pengetahuan dan keterampilan melalui dimensi akal, rasio atau logika dan kinestetik dalam setiap bidang studi. Pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik itu tidak selalu harus mengandalkan ruang – ruang kelas melalui Mendikbud dalam isi Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 itu juga menyatakan bahwa pembelajaran daring/jarak jauh difokuskan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai virus korona dan wabah Covid-19. Menurut Mendikbud isi Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 itu juga menyatakan bahwa pembelajaran yang berani / jarak jauh difokuskan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai virus korona dan wabah Covid-19.

Tanpa adanya peran serta guru maka orang tua  tidak dapat secara maksimal membentuk dan membangun karakter anak – anak mereka. Masyarakat masih memandang bahwa ruang kelas adalah sekolah yang sebenarnya dan kelas on line itu kurang efektif . Bukti atau produk aktivitas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif. Dalam keadaan pandemi dan melakukan PJJ seperti ini bukan berarti tidak ada media untuk memberikan pembelajaran karakter pada siswa Walaupun banyak sekolah menerapkan belajar dari rumah, bukan berarti guru hanya memberikan pekerjaan saja kepada peserta didik, tetapi juga ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu peserta didik Selama PJJ ini pun para guru juga bisa menumbuhkan jiwa entrepreneurship pada siswa, dimana dalam entrepreneurship itu terkandung nilai-nlai karakter seperti kemandirian, gigih dan pantang menyerah menghadapi tantangan.

Karakter siswa Sekolah Dasar anak usia sekolah dasar mempunyai ciri - ciri setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Para orang tua yakin bahwa guru sangat membantu mereka dalam membentuk dan membangun karakter anak-anaknya. Kita menganggap bahwa penutupan ruang kelas berdampak terhadap guru, siswa, dan orang tua di mana pun.

Sumber :

https://kumparan.com/asep-totoh/pendidikan-karakter-siswa-saat-pandemi-1v48lXNZFXi

https://jateng.inews.id/berita/guru-dan-orang-tua-harus-deteksi-perubahan-karakter-siswa-dampak-pembelajaran-daring

http://koranbogor.com/berita/kampus-kita/karakter-anak-dalam-proses-belajar-di-kelas-dan-perubahan-pembelajaran-online/

Jumat, 21 Januari 2022

TRILOGI KEPEMIMPINAN SEBAGAI LANDASAN PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK

Pendidikan selain mencakup proses transfer dan transmisi ilmu pengetahuan juga merupakan proses yang sangat strategis dalam menanamkan nilai dalam rangka pembudayaan anak manusia. Undang-Undang Sisdiknas 20/2003 menyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar serta terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa, serta negara“ (Sisdiknas, No. 20 tahun 2003). beranjak dari pernyataan tersebut, maka pendidikan tidak hanya bertujuan untuk menggali serta berbagi potensi dan  kecerdasan siswa, tetapi juga yang lebih ditekankan artinya pembentukan kepribadian dan  penanaman nilai-nilai budaya demi terbentuknya insan yang memiliki akhlak mulia.

Adanya fenomena mulai asal merosotnya moral peserta didik hingga keluarnya tindak kekerasan mengisyaratkan bahwa pendidikan karakter menjadi satu hal yang tidak boleh dikesampingkan dalam proses pembelajaran. kenyataan yg terjadi di rakyat artinya setiap perilaku serta sikap beringas yg tampak pada siswa senantiasa dikaitkan dengan kegagalan asal mata pelajaran agama (Tanu, 2010:159).

Pendidikan karakter telah menjadi sebuah model pendidikan yang ditawarkan dalam mengatasi masalah moral anak di Indonesia. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya kenakalan remaja di masyarakat. Ki Hadjar Dewantara sebagai salah seorang tokoh penting dalam dunia pendidikan nasional di Indonesia telah banyak memberikan sumbangsih pemikirannya terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Di dalam penelitian ini peneliti mengkaji pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang memiliki hubungan terhadap pendidikan karakter. Hasilnya adalah pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara mengarahkan kepada pentingnya peran sebuah lingkungan, tempat dimana karakter itu akan dibentuk, jiwa kepemimpinan dan saling membantu satu sama lain, serta tumbuhnya cinta kepada budaya bangsa agar dapat membentuk generasi-generasi penerus bangsa yang baik.

Pendidikan  karakter  telah  menjadi  sebuah  model  pendidikan  yang  ditawarkan  dalam  mengatasi masalah  moral  anak di  Indonesia.  Hal  ini berhubungan  dengan meningkatnya  kenakalan  remaja  di  masyarakat.  Ki  Hadjar  Dewantara sebagai  salah  seorang  tokoh  penting  dalam  dunia  pendidikan  nasional  di  Indonesia  telah  banyak  memberikan  sumbangsih  pemikirannya  terhadap  kemajuan  pendidikan  di  Indonesia.  Di  dalam  penelitian  ini  peneliti  mengkaji  pemikiran-pemikiran  Ki  Hadjar  Dewantara tentang pendidikan yang memiliki hubungan terhadap pendidikan karakter.  Hasilnya  adalah  pemikiran-pemikiran  pendidikan  Ki  Hadjar  Dewantara  mengarahkan  kepada  pentingnya  peran  sebuah  lingkungan,  tempat  dimana  karakter  itu  akan  dibentuk, jiwa kepemimpinan dan saling membantu  satu  sama  lain, serta tumbuhnya  cinta kepada budaya bangsa agar dapat membentuk generasi-generasi penerus bangsa  yang baik. Pendidikan  karakter  telah  menjadi  sebuah  model  pendidikan  yang  ditawarkan  dalam  mengatasi masalah  moral  anak di  Indonesia.  Hal  ini berhubungan  dengan meningkatnya  kenakalan  remaja  di  masyarakat.  Ki  Hadjar  Dewantara sebagai  salah  seorang  tokoh  penting  dalam  dunia  pendidikan  nasional  di  Indonesia  telah  banyak  memberikan  sumbangsih  pemikirannya  terhadap  kemajuan  pendidikan  di  Indonesia.  Di  dalam  penelitian  ini  peneliti  mengkaji  pemikiran-pemikiran  Ki  Hadjar  Dewantara tentang pendidikan yang memiliki hubungan terhadap pendidikan karakter.  Hasilnya  adalah  pemikiran-pemikiran  pendidikan  Ki  Hadjar  Dewantara  mengarahkan  kepada  pentingnya  peran  sebuah  lingkungan,  tempat  dimana  karakter  itu  akan  dibentuk, jiwa kepemimpinan dan saling membantu  satu  sama  lain, serta tumbuhnya  cinta kepada budaya bangsa agar dapat membentuk generasi-generasi penerus bangsa
yang baik.

Faktor-faktor Penyebab Kegagalan Pembentukan Karakter pada Peserta Didik

Adapun faktor-faktor penyebab kegagalan pembentukan karakter pada murid bisa dipilah-pilah sesuai lingkungan tempat anak tersebut mendapatkan proses pendidikannya, yakni, keluarga, sekolah, serta masyarakat.

1.      Keluarga

Keluarga merupakan daerah pertama dan  paling utama daerah anak mendapatkan penanaman karakter, dari sejak pada kandungan, hingga dewasa. pada hal ini, peran orang tua sebagai sangat penting, karena berasal orang tualah murid akan memperoleh pendidikan pertamanya. menurut Megawangi (2003:23) terdapat beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang bisa menghipnotis perkembangan kecerdasan emosi anak sehingga membuahkan di pembentukan karakternya, yaitu :

  • Kurang membagikan aktualisasi diri kasih sayang baik secara lisan maupun fisik.
  • Kurang meluangkan saat yang cukup buat anaknya.
  • Bersikap kasar secara lisan, misalnya menyindir, mengecilkan anak, dan  berkata-istilah kasar.
  • Bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, serta memberikan eksekusi badan lainnya
  • Terlalu memaksa anak buat menguasai kemampuan kognitif secara dini.
  • Tidak menanamkan "good character' pada anak.

Dampak yang disebabkan dari keliru asuh seperti diatas, dari Megawangi (2003:24) akan menghasilkan anak-anak yang memiliki kepribadian bermasalah atau memiliki kecerdasan emosi rendah, diantaranya :

  • Anak menjadi acuh tak acuh, tak butuh orang lain, serta tidak bisa mendapatkan persahabatan. karena sejak mungil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan  gangguan emosi negatif lainnya. saat dewasa ia akan menolak dukungan, simpati, cinta serta respons positif lainnya berasal orang di sekitarnya. la kelihatan sangat mandiri, namun tidak hangat serta tidak disenangi sang orang lain.
  • Secara emosiol tidak responsif, dimana anak yang ditolak akan tak bisa menyampaikan cinta pada orang lain.
  • Berperilaku agresif, yaitu selalu ingin menyakiti orang baik secara verbal maupun fisik.
  • Menjadi minder, merasa diri tidak berharga dan  bermanfaat.
  • Selalu berpandangan negatif pada lingkungan sekitarnya, mirip rasa tidak aman, khawatir, minder, curiga dengan orang lain, dan  merasa orang lain sedang mengkritiknya.
  • Ketidakstabilan emosional, yaitu tidak toleran atau tak tahan terhadap tertekan, praktis tersinggung, simpel marah, serta sifat yang tak dapat diprediksi sang orang lain.
  • Ketidakseimbangan antara perkembangan emosional dan  intelektual. dampak negatif lainnya dapat berupa mogok belajar, dan  bahkan dapat memicu kenakalan remaja, tawuran, dan  lainnya.
  • Orang tua yang tidak menyampaikan rasa aman serta terlalu menekan anak, akan membentuk anak merasa tidak dekat, dan  tidak menjadikan orang tuannya sebagai ”role” atau contoh. Anak akan lebih percaya pada "peer group"nya sehingga simpel terpengaruh dengan pergaulan negatif.

2.      Sekolah

Dalam proses pembelajaran di sekolah, tentu peranan energi pendidik lebih diutamakan, dalam membentuk hubungan yang serasi menggunakan siswa, serta menghasilkan kepribadian siswa seorang pengajar sebagai pendidik dituntut tidak hanya pintar dalam memberikan materi, tetapi lebih menekankan di pembentukan karakter siswa. dalam penyampaian materi yang terpenting adalah bagaimana pengajar mengarahkan siswa tidak hanya sekedar mengerti apa yang disampaikan, namun mampu mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari murid. Wina Sanjaya (2010:92-93) menyatakan bahwa salah  satu kekeliruan pengajar pada mengajar adalah guru tidak mengajak berpikir pada peserta didik. Komunikasi terjadi satu arah, yaitu berasal guru ke siswa. pengajar menganggap bahwa bagi peserta didik menguasai bahan ajar lebih krusial dibandingkan akal budi serta bertindak. Orientasi pembelajaran lebih di penyampaian materi. Keberhasilan suatu proses pedagogi diukur dari sejauh mana peserta didik bisa menguasai materi pelajaran yang disampaikan pengajar. Kadang-kadang peserta didik tidak memahami apa gunanya menelaah bahan ajar.

3.      Masyarakat

Masyarakat ialah komunitas moral yang menyebarkan tanggung jawab untuk pendidikan berbagi karakter dan  setia dan  konsisten pada nilai dasar yang diusung bersama-sama. dalam lingkungan warga  terdapat sejumlah adat-tata cara yang ditaati beserta oleh seluruh anggota warga. Masyarakat artinya media bagi peserta didik pada berinteraksi dan  bersosialisasi dengan sesamanya. Simanjuntak (2003:156) menyatakan bahwa pada proses pengenalan seseorang individu asal masa anak-anak sampai masa tua selalu belajar pola-pola tindakan dalam interaksi menggunakan segala macam individu sekitarnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial. dalam hal ini, adanya beberapa sikap menyimpang dalam anggota rakyat menjadi bentuk pelanggaran istiadat-norma akan mempengaruhi perkembangan kepribadian siswa dimana hal tadi bisa menjadi contoh yang cenderung diikuti dan  ditiru oleh siswa.

Trilogi Kepemimpinan

Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yang populer di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Seorang pemimpn harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya. Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri teladan bagi bawahan atau anak buahnya. Sebagai seorang pemimpin harus memiliki sikap dan perilaku yang baik di segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak buahnya atau bawahannya (Moh. Yamin, 2009: 194). 

Ing Madyo Mangun Karso adalah seorang pemimpin di tengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahannya. Oleh karenanya, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi- inovasi di lingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif dan dinamis untuk keamanan serta kenyamanan kerja. Demikian pula dengan Tut Wuri Handayani artinya memberikan dorongan moral atau dorongan semangat, sehingga seorang pemimpim harus memberikan dorongan mora dan semangat kerja dari belakang.

Secara tersirat berarti seorang figur pemimpin yang baik adalah yang tidak hanya dapat menjadi suri tauladan atau panutan bagi bawahan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar bawahan bisa melaksanakan tugas- tugas dan tanggung jawabnya secara utuh dan bukan paksaan, atau bukan karena mendapatkan tekanan maupun ancaman tertentu dari atasan. Hal tersebut sama halnya ketika konsep tersebut dimasukkan dalam dunia pendidikan sebagaimana yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara.

Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah Tut Wuri Handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya yakni, Ing Ngarsa Sun Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Namun, ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti ketiga semboyan tersebut secara lengkap adalah Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Ing Ngarsa Sun Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik) (Moh Yamin, 2009: 194-195). 

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan lebih jauh dan detail bahwa biarkanlah anak didik mencari jalan sendiri selama mereka mampu dan bisa melakukan itu karena ini merupakan bagian dari pendidikan pendewasaan diri yang baik dan membangun.

Kemajuan anak didik, dengan membiarkan hal seperti itu, akan menjadi sebuah kemajuan sejati dan hakiki. Namun, kendatipun begitu, membiarkan mereka berjalan sendiri, bukan berarti tidak diperhatikan atau dipedulikan, pendidik harus mengawasi kemanakah mereka akan menempuh jalan. Pendidik hanya mengamati, memberi teguran, maupun arahan ketika mereka mengambil jalan yang salah dan keliru. Oleh karena itu, dengan menggunakan gagasan Ki Hadjar Dewantara, seorang pendidik harus mencerminkan sosok yang disenangi dan menjadi contoh terbaik bagi anak-anak didiknya. Seorang pendidik harus memiliki sikap dan tindakan yang bisa dilakukan oleh anak didiknya dengan sedemikian rupa dikemudian hari kelak, baik di lingkungan sekolah, keluarganya, maupun masyarakatnya.

Pendidikan diharapkan menjadi sosok yang mampu mengubah karakter anak didik dari beringas dan nakal menjadi lemah lembut dan penuh kesantunan tinggi. Perilaku dalam mendidik di ruangan kelas pun harus menampilkan sikap diri yang betul-betul membawa kebaikan perilaku sehari-hari bagi kehidupan anak-anak didiknya.Baik dan buruknya perilaku seorang anak didik bergantung pada bagaimana seorang pendidik memberikan pelajaran dan pengajaran dalam melakukan interaksi sosial baik dalam kelas di sekolah, maupun masyarakat serta keluarganya (Moh. Yamin, 2009: 196). Corak dan cara pendidikan menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara patut kita jadikan sebagai acuan dalam pengembangan pendidikan karakter.

Corak pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara haruslah bersifat nasional. Artinya secara nasional pendidikan harus memiliki corak yang sama dengan tidak mengabaikan budaya lokal. Bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak suku, ras, dan agama hendaknya memiliki kesamaan corak dalam mengembangkan karakter anak bangsanya. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya konflik fisik sebagai akibat banyaknya perbedaan. Pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara bercorak nasional. Pada awalnya muncul dalam rangka mengubah sistem pendidikan kolonial menjadi sistem pendidikan nasional yang berdasarkan pada kebudayaan sendiri.

Pendidikan yang dicita-citakan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah Pendidikan Nasional. Hal ini diinsyafi benar oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa harus didasari jiwa merdeka dan jiwa nasional dari bangsa itu. Hanya orang-orang yang berjiwa merdeka saja yang sanggup berjuang menuntut dan selanjutnya mempertahankan kemerdekaan. Syaratnya ialah Pendidikan Nasional, dan pendidikan merdeka pada anak-anak yang akan dapat memberi bekal kuat untuk membangun karakter bangsa. Cara mendidik menurut Ki Hadjar Dewantara disebutnyasebagai “peralatan pendidikan”. Menurut Ki Hadjar Dewantara cara mendidik itu amat banyak, tetapi terdapat beberapa cara yang patut diperhatikan, yaitu: memberi contoh (voorbeelt); pembiasaan (pakulinan, gewoontevorming); pengajaran (wulang-wuruk); laku (zelfbeheersching); pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa). Cara pendidikan yang disebutkan di atas sangatlah tepat untuk membangun karakter anak bangsa. Pemberian contoh yang disertai dengan pembiasaan sangatlah tepat untuk menanamkan karakter pada peserta didik. Begitu juga pengajaran (wulangwuruk) yang disertai contoh tindakan (laku) akan mempermudah peserta didik dalam menginternalisasi nilai-nilai positif, sebagai bentuk perwujudan karakter. Apalagi disempurnakan dengan pengalaman lahir dan batin maka menjadi sempurnalah karakter peserta didik

KESIMPULAN

Ki Hadjar Dewantara mengarahkan kepada pentingnya peran sebuah lingkungan, tempat dimana karakter itu akan dibentuk, jiwa kepemimpinan dan saling membantu satu sama lain, serta tumbuhnya cinta kepada budaya bangsa agar dapat membentuk generasi-generasi penerus bangsa yang baik. Ki Hadjar Dewantara mengarahkan kepada pentingnya peran sebuah lingkungan, tempat dimana karakter itu akan dibentuk, jiwa kepemimpinan dan saling membantu satu sama lain, serta tumbuhnya cinta kepada budaya bangsa agar dapat membentuk generasi-generasi penerus bangsa yang baik. Ki Hadjar Dewantara mengarahkan kepada pentingnya peran sebuah lingkungan, tempat dimana karakter itu akan dibentuk, jiwa kepemimpinan dan saling membantu satu sama lain, serta tumbuhnya cinta kepada budaya bangsa agar dapat membentuk generasi-generasi penerus bangsa yang baik. Undang-Undang Sisdiknas 20/2003 menyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar serta terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa, serta negara“ (Sisdiknas, No. 20 tahun 2003). Di dalam penelitian ini peneliti mengkaji pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang memiliki hubungan terhadap pendidikan karakter. Di dalam penelitian ini peneliti mengkaji pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang memiliki hubungan terhadap pendidikan karakter. Di dalam penelitian ini peneliti mengkaji pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang memiliki hubungan terhadap pendidikan karakter. 

Pendidikan karakter telah menjadi sebuah model pendidikan yang ditawarkan dalam mengatasi masalah moral anak di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara sebagai salah seorang tokoh penting dalam dunia pendidikan nasional di Indonesia telah banyak memberikan sumbangsih pemikirannya terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter telah menjadi sebuah model pendidikan yang ditawarkan dalam mengatasi masalah moral anak di Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA 

Megawangi, Ratna. 2003. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. IPPK Indonesia Heritage Foundation (Online).

Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Simanjuntak, Posman. 2003. Antropologi. Jakarta: Erlangga.

Tanu, I Ketut. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran di Era Global. Denpasar: Sari Kahyangan Indonesia.

Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003. 2010. Jakarta: Bening.

Yamin, Moh. 2008. Menggugat Pendidikan Indonesia “Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara. cet. ke-1.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Senin, 29 November 2021

LIMBAH LABORATORIUM DAN RUMAH SAKIT

 PENGERTIAN LIMBAH LABORATORIUM

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik(rumah tangga), yang lebih dikenal sebagai sampah, yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Menurut Recycling and Waste Management Act limbah didefinisikan sebagai benda bergerak yang diinginkan oleh pemiliknya untuk dibuang atau pembuangannya dengan cara yang sesuai, yang aman untuk kesejahteraan umum dan untuk melindungi lingkungan. Limbah laboratorium adalah limbah yang berasal dari kegiatan laboratorium.

Sumber limbah laboratorium dapat berasal diantaranya dari :

1.       Bahan baku yang telah kadaluarsa

2.       Bahan habis pakai (misal medium biakan/ perbenihan yang tidak terpakai)

3.       Produk proses di laboratorium (misal sisa spesimen)

4.       Produk upaya penanganan limbah (misal jarum suntik sekali pakai)

1.       Macam – Macam Limbah Laboratorium

Berdasarkan jenisnya, maka klasifikasi pengumpulan limbah laboratorium adalah:

Kelas

Jenis

A

Pelarut organik bebas halogen dan senyawa organik dalam

larutan

B

Pelarut organik mengandung halogen dan senyawa organik

dalam larutan

C

Residu padatan bahan kimia laboratorium organik

D

Garam dalam larutan: lakukan penyesuaian kandungan

kemasan pada pH 6 -8

E

Residu bahan anorganik beracun dan garam logam berat dan larutannya

F

Senyawa beracun mudah terbakar

G

Residu air raksa dan garam anorganik raksa

H

Residu garam logam; tiap logam harus dikumpulkan secara terpisah

I

Padatan anorganik

J

Kumpulan terpisah limbah kaca, logam dan plastik

 Berdasarkan sifatnya, limbah dibedakan menjadi:

1.       Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia. Limbah beracun dibagi menjadi:

  1. Limbah mudah meledak
  2. Limbah mudah terbakar.
  3. Limbah reaktif
  4. Limbah beracun
  5. Limbah yang menyebabkan infeksi
  6. Limbah yang bersifat korosif

2.       Limbah infeksius

Limbah infeksius meliputi limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular serta limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik, ruang perawatan dan ruang isolasi penyakit menular.

3.       Limbah radioaktif

Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radionucleida.

4.       Limbah umum

Berdasarkan bentuk limbah yang dihasilkan, dibedakan menjadi:

a.    Limbah padat

Limbah padat di laboratorium relatif kecil, biasanya berupa endapan atau kertas saring terpakai, sehingga masih dapat diatasi.

Limbah padat dibedakan menjadi:

1)    Limbah padat infeksius

2)    Limbah padat non infeksius

 

 

b.       Limbah gas

Limbah yang berupa gas umumnya dalam jumlah kecil, sehingga relatif masih aman untuk dibuang langsung di udara, contohnya limbah yang dihasilkan dari penggunaan generator, sterilisasi dengan etilen oksida atau dari thermometer yang pecah (uap air raksa).

c.       Limbah cair

Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP No.82 Thn 2001). Umumnya laboratorium berlokasi di sekitar kawasan hunian, sehingga akumulasi limbah cair yang meresap ke dalam air tanah dapat membahayakan lingkungan sekitar. Limbah cair terbagi atas:

1)       Limbah cair infeksius

2)       Limbah cair domestic

3)       Limbah cair kimia

Berdasarkan atas dasar asalnya, dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1)       Limbah organik

Limbah ini terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga, kegiatan industri. Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami.

2)       Limbah anorganik

Limbah anorganik berasal dari sumber daya alamyang tidak dapat di uraikan dan tidak dapat diperbaharui.

2.       Cara Pengelolaan Limbah Laboratorium

Tujuan penanganan limbah adalah untuk mengurangi resiko pemaparan limbah terhadap kuman yang menimbulkan penyakit (patogen) yang mungkin berada dalam limbah tersebut. Penanganan limbah antara lain ditentukan oleh sifat limbah, yaitu :

  1. Limbah berbahaya dan beracun, dengan cara :
  2. Netralisasi

Limbah yang bersifat asam dinetralkan dengan basa seperti kapur tohor, CaO atau Ca(OH)2 Sebaliknya, limbah yang bersifat basa dinetralkan dengan asam seperti H2SO4 atau HCI.

a.       Pengendapan/sedimentasi, koagulasi dan flokulasi

Kontaminan logam berat dalam ciaran diendapkan dengan tawas/FeC13, Ca(OH)2/CaO karena dapat mengikat As, Zn, Ni. Mn dan Hg.

b.       Reduksi-Oksidasi

Terhadap zat organik toksik dalam limbah dapat dilakukan reaksi reduksi oksidasi (redoks) sehingga terbentuk zat yang kurang/tidak toksik.

c.       Penukaran ion

Ion logam berat nikel, Ni dapat diserap oleh kation, sedangkan anion beracun dapat diserap oleh resin anion.

d.       Limbah infeksius

Ada beberapa metode penanganan limbah cair/padat yang bersifat infeksius, yaitu

1)       Metode Desinfeksi

Adalah penanganan limbah (terutama cair) dengan cara penambahan bahan-bahan kimia yang dapat mematikan atau membuat kuman-kuman penyakit menjadi tidak  aktif.

2)       Metode Pengenceran (Dilution)

dengan cara mengencerkan air limbah sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Kerugiannya ialah bahan kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang terjadi dapat menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air seperti selokan, sungai dan sebagainya sehingga dapat menimbulkan banjir.

3)       Metode Proses Biologis

dengan menggunakan bakteri-bakteri pengurai. Bakteri-bakteri tersebut akan menimbulkan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah.

4)       Metode Ditanam (Landfill)

Yaitu penanganan limbah dengan menimbunnya dalam tanah.

5)       Metode Insinerasi (Pembakaran)

Pemusnah limbah dengan cara memasukkan ke dalam insinerator. Dalam insinerator senyawa kimia karbon yang ada dibebaskan ke atmosfir sebagai CO2 dan H2O. Bahan-bahan seperti mineral, logam dan bahan organik lainnya (kuman penyakit, jaringan tubuh, hewan, darah, bahan kimia, kertas, plastik) yang tidak terbakar tersisa dalam bentuk abu yang beratnya 10-30% dari berat aslinya (tergantung dari jenis limbah).

6)       Limbah radioaktif

Masalah penanganan limbah radioaktif dapat diperkecil dengan memakai radioaktif sekecil mungkin, menciptakan disiplin kerja yang ketat dan menggunakan alat yang mudah didekontaminasi. Penanganan limbah radioaktif dibedakan berdasarkan:

a)       Bentuk : cair, padat dan gas,

b)       Tinggi – rendahnya tingkat radiasi sinar gamma (γ),

c)       Tinggi – rendahnya aktifitas

d)       Panjang – pendeknya waktu paruh,

e)       Sifat : dapat dibakar atau tidak.

Ada 2 sistem penanganan limbah radioaktif :

a)    Dilaksanakan oleh pemakai secara perorangan dengan memakai proses peluruhan, peguburan dan pembuangan.

b)    Dilaksanakan secara kolektif oleh instansi pengolahan limbah radioaktif, seperti Badan Tanaga Atom Nasional (BATAN).

7)       Limbah umum

Limbah umum non infeksius setelah dikumpulkan dalam wadah kantong plastik diikat kuat dan dibakar di insinerator

3.       Langkah Nyata Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengurangi Limbah Di Laboratorium

Penggunaan kembali limbah laboratorium berupa bahan kimia yang telah digunakan, setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai contoh: (hal ini paling sesuai untuk pelarut yang telah digunakan) Pelarut organik seperti etanol, aseton, kloroform, dan dietil eter dikumpulkan di dalam laboratorium secara terpisah dan dilakukan destilasi, sebelum melakukan reaksi kimia, dilakukan perhitungan mol reaktan-reaktan yang bereaksi secara tepat sehingga tidak menimbulkan residu berupa sisia bahan kimia. Selain menghemat bahan yang ada, hal ini juga akan mengurangi limbah yang dihasilkan.

Pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.

Dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.

Pembakaran dalan insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.

Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun

 LIMBAH RUMAH SAKIT

1.       Pengertian

Limbah (menurut PP NO 12, 1995) adalah bahan sisa suatu kegiatan dan atau proses produksi. Sedangkan limbah rumah sakit menurut Permenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair, dan gas.

Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme bergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang. Limbah cair rumah sakit dapat mengandung bahan organik dan anorganik yang umumnya diukur dan parameter BOD, COD, TSS, dan lain – lain. Sementara limbah padat rumah sakit terdiri atas sampah mudah membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-lain. Limbah-limbah tersebut kemungkinan besar mengandung mikroorganisme patogen atau bahan kimia beracun berbahaya yang menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar ke lingkungan rumah sakit yang disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang memadai, kesalahan penanganan bahan – bahan terkontaminasi dan peralatan, serta penyediaan dan pemeliharaan sarana sanitasi yang masih buruk.

Limbah benda tajam adalah semua benda yang mempunyai permukaan tajam yang dapat melukai / merobek permukaan tubuh. Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator, anastesi, dan pembuatan obat citotoksik. Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup.

2.       Karakteristik Limbah Rumah Sakit

Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Apabila dibanding dengan kegiatan instansi lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis sampah dan limbah rumah sakit dapat dikategorikan kompleks. Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah atau limbah medis dan non medis baik padat maupun cair.

Limbah medis adalah yang berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi, veterinari, farmasi atau sejenis, pengobatan, perawatan, penelitian atau pendidikan yang menggunakan bahan-bahan beracun, infeksius berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. Bentuk limbah medis bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang terkandung di dalamnya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a.         Limbah benda tajam

Limbah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah. Semua benda tajam ini memiliki potensi bahaya dan dapat menyebabkan cedera melalui sobekan atau tusukan. Benda-benda tajam yang terbuang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi, bahan beracun atau radioaktif.

b.      Limbah infeksius

Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut:

1)    Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif)

2)    Limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular.

c.       Limbah jaringan tubuh

Limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan, darah dan cairan tubuh, biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi.

d.      Limbah sitotoksik

Limbah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik. Limbah yang terdapat limbah sitotoksik didalamnya harus dibakar dalam incinerator dengan suhu diatas 1000oc

e.       Limbah farmasi

Limbah farmasi ini dapat berasal dari obat-obat kadaluwarsa, obat-obat yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi, obat-obat yang dibuang oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat, obat-obat yang tidak lagi diperlukan oleh institusi yang bersangkutan dan limbah yang dihasilkan selama produksi obat-obatan.

f.        Limbah kimia

Limbah kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan bahan kimia dalam tindakan medis, veterinari, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset.

g.      Limbah radioaktif

Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radio nukleida. Limbah ini dapat berasal dari antara lain : tindakan kedokteran nuklir, radio-imunoassay dan bakteriologis; dapat berbentuk padat, cair atau gas. Limbah cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik fisik, kimia dan biologi.

h.      Limbah Plastik

Limbah plastik adalah bahan plastik yang dibuang oleh klinik, rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain seperti barang-barang dissposable yang terbuat dari plastik dan juga pelapis peralatan dan perlengkapan medis. Selain sampah klinis, dari kegiatan penunjang rumah sakit juga menghasilkan sampah non medis atau dapat disebut juga sampah non medis. Sampah non medis ini bisa berasal dari kantor/administrasi kertas, unit pelayanan (berupa karton, kaleng, botol), sampah dari ruang pasien, sisa makanan buangan; sampah dapur (sisa pembungkus, sisa makanan/bahan makanan, sayur dan lain-lain). Limbah cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik fisik, kimia dan biologi. Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme, tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik dll). Tentu saja dari jenis-jenis mikroorganisme tersebut ada yang bersifat patogen. Limbah rumah sakit seperti halnya limbah lain akan mengandung bahan-bahan organik dan anorganik, yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji air kotor pada umumnya seperti BOD, COD, TTS, pH, mikrobiologik, dan lainlain.

Melihat karakteristik yang ditimbulkan oleh buangan/limbah rumah sakit seperti tersebut diatas, maka konsep pengelolaan lingkungan sebagai sebuah sistem dengan berbagai proses manajemen didalamnya yang dikenal sebagai Sistem Manajemen Lingkungan (Environmental Managemen System) dan diadopsi Internasional Organization for Standar (ISO) sebagai salah satu sertifikasi internasioanal di bidang pengelolaan lingkunan dengan nomor seri ISO 14001 perlu diterapkan di dalam Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit.

3.       Pengaruh Limbah Rumah Sakit Terhadap Lingkungan dan Kesehatan

Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan dapat menimbulkan berbagai masalah seperti:

a.       Gangguan kenyamanan dan estetika, berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia organik.

b.       Kerusakan harta benda, dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif, karat), air yang berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan di sekitar rumah sakit.

c.       Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang, dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia, pestisida, logam nutrien tertentu dan fosfor.

d.       Gangguan terhadap kesehatan manusia, dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, senyawa-senyawa kimia, pestisida, serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi.

e.       Gangguan genetik dan reproduksi

Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetik dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida, bahan radioaktif. 

4.       Pengelolaan Limbah Rumah Sakit

a.       Limbah padat

Untuk memudahkan mengenal jenis limbah yang akan dimusnahkan, perlu dilakukan penggolongan limbah. Dalam kaitan dengan pengelolaan, limbah medis dikategorikan menjadi 5 golongan sebabagi berikut :

Golongan A :

1)       Dressing bedah, swab dan semua limbah terkontaminasi dari kamar bedah.

2)       Bahan-bahan kimia dari kasus penyakit infeksi.

3)       Seluruh jaringan tubuh manusia (terinfeksi maupun tidak), bangkai/jaringan  hewan dari laboratorium dan hal-hal lain yang berkaitan dengan swab dan dreesing.

Golongan B :

Syringe bekas, jarum, cartridge, pecahan gelas dan benda-benda tajam lainnya.

Golongan C :

Limbah dari ruang laboratorium dan postpartum kecuali yang termasuk dalam golongan A.

Golongan D :

Limbah bahan kimia dan bahan-bahan farmasi tertentu.

Golongan E :

Pelapis Bed-pan Disposable, urinoir, incontinence-pad, dan stomach.

Dalam pelaksanaan pengelolaan limbah medis perlu dilakukan pemisahan penampungan, pengangkutan, dan pengelolaan limbah pendahuluan.

1.       Pemisahan

Golongan A

Dressing bedah yang kotor, swab dan limbah lain yang terkontaminasi dari ruang pengobatan hendaknya ditampung dalam bak penampungan limbah medis yang mudah dijangkau bak sampah yang dilengkapi dengan pelapis pada tempat produksi sampah. Kantong plastik tersebut hendaknya diambil paling sedikit satu hari sekali atau bila sudah mencapai tiga perempat penuh. Kemudian diikat kuat sebelum diangkut dan ditampung sementara di bak sampah klinis. Bak sampah tersebut juga hendaknya diikat dengan kuat bila mencapai tiga perempat penuh atau sebelum jadwal pengumpulan sampah. Sampah tersebut kemudian dibuang dengan cara sebagai berikut :

a)       Sampah dari haemodialisis

Sampah hendaknya dimasukkan dengan incinerator. Bisa juga digunakan autoclaving,tetapi kantung harus dibuka dan dibuat sedemikian rupa sehingga uap panas bisa menembus secara efektif. (Catatan: Autoclaving adalah pemanasan dengan uap di bawah tekanan dengan tujuan sterilisasi terutama untuk limbah infeksius).

b)       Limbah dari unit lain :

Limbah hendaknya dimusnahkan dengan incinerator. Bila tidak mungkin bisa menggunakan cara lain, misalnya dengan membuat sumur dalam yang aman. Semua jaringan tubuh, plasenta dan lain-lain hendaknya ditampung pada bak limbah medis atau kantong lain yang tepat kemudian dimusnahkan dengan incinerator. Perkakas laboratorium yang terinfeksi hendaknya dimusnahkan dengan incinerator. Incinerator harus dioperasikan di bawah pengawasan bagian sanitasi atau bagian laboratorium.

Golongan B

Syringe, jarum dan cartridges hendaknya dibuang dengan keadaan tertutup. Sampah ini hendaknya ditampung dalam bak tahan benda tajam yang bilamana penuh (atau dengan interval maksimal tidak lebih dari satu minggu) hendaknya diikat dan ditampung di dalam bak sampah klinis sebelum diangkut dan dimasukkan denganincinerator.

2.       Penampungan

Sampah klinis hendaknya diangkut sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan. Sementara menunggu pengangkutan untuk dibawa ke incinerator atau pengangkutan oleh dinas kebersihan (atau ketentuan yang ditunjuk), sampah tersebut hendaknya :

a)       Disimpan dalam kontainer yang memenuhi syarat.

b)       Di lokasi/tempat yang strategis, merata dengan ukuran yang disesuaikan dengan frekuensi pengumpulannya dengan kantong berkode warna yang telah ditentukan secara terpisah.

c)       Diletakkan pada tempat kering/mudah dikeringkan, lantai yang tidak rembes, dan disediakan sarana pencuci.

d)       Aman dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab; dari binatang, dan bebas dari infestasi serangga dan tikus

e)       Terjangkau oleh kendaraan pengumpul sampah (bila mungkin)

f)        Sampah yang tidak berbahaya dengan penanganan pendahuluan (jadi bisa digolongkan dalam sampan klinis), dapat ditampung bersama sampah lain sambil menunggu pengangkutan.

3.       Pengangkutan

Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan intenal dan eksternal. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke tempat pembuangan atau ke incinerator (pengolahan on-site). Dalam pengangkutan internal biasanya digunakan kereta dorong. Kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga :

a)       Permukaan harus licin, rata dan tidak tembus

b)       Tidak akan menjadi sarang serangga

c)       Mudah dibersihkan dan dikeringkan

d)       Sampan tidak menempel pada alat angkut

e)       Sampan mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali

Bila tidak tersedia sarana setempat dan sampah klinis harus diangkut ke tempat lain :

a)              Harus disediakan bak terpisah dari sampah biasa dalam alat truk pengangkut.

b)       Dan harus dilakukan upaya untuk men-cegah kontaminasi sampah lain yang dibawa.

c)       Harus dapat dijamin bahwa sampah dalam keadaan aman dan tidak terjadi kebocoran atau tumpah.

 

b.      Limbah Cair

Limbah rumah sakit mengandung bermacam-macam mikroorganisme, bahan-bahan organik dan an-organik. Beberapa contoh fasilitas atau Unit Pengelolaan Limbah (UPL) di rumah sakit antara lain sebagai berikut:

1)         Kolam Stabilisasi Air Limbah (Waste Stabilization Pond System)

Sistem pengelolaan ini cukup efektif dan efisien kecuali masalah lahan, karena kolam stabilisasi memerlukan lahan yang cukup luas; maka biasanya dianjurkan untuk rumah sakit di luar kota (pedalaman) yang biasanya masih mempunyai lahan yang cukup. Sistem ini terdiri dari bagian-bagian yang cukup sederhana yakni :

a)       Pump Swap (pompa air kotor).

b)       Stabilization Pond (kolam stabilisasi) 2 buah.

c)       Bak Klorinasi

d)       Control room (ruang control

e)       Inlet

f)        Incinerator antara 2 kolam stabilisasi

g)       Outlet dari kolam stabilisasi menuju sistem klorinasi.

2)       Kolam oksidasi air limbah (Waste Oxidation Ditch Treatment System)

Sistem ini terpilih untuk pengolahan air limbah rumah sakit di kota, karena tidak memerlukan lahan yang luas. Kolam oksidasi dibuat bulat atau elips, dan air limbah dialirkan secara berputar agar ada kesempatan lebih lama berkontak dengan oksigen dari udara (aerasi). Kemudian air limbah dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan benda padat dan lumpur. Selanjutnya air yang sudah jernih masuk ke bak klorinasi sebelum dibuang ke selokan umum atau sungai. Sedangkan lumpur yang mengendap diambil dan dikeringkan pada Sludge drying bed (tempat pengeringan Lumpur). Sistem kolam oksidasi ini terdiri dari :

a)       Pump Swap (pompa air kotor)

b)       Oxidation Ditch (pompa air kotor)

c)       Sedimentation Tank (bak pengendapan)

d)       Chlorination Tank (bak klorinasi)

e)       Sludge Drying Bed (tempat pengeringan lumpur, biasanya 1 – 2  petak).

f)        Control Room (ruang kontrol)

3)       Anaerobic Filter Treatment System

Sistem pengolahan melalui proses pembusukan anaerobik melalui filter/saringan, air limbah tersebut sebelumnya telah mengalami pretreatment dengan septic tank (inchaff tank). Proses anaerobic filter treatment biasanya akan menghasilkan effluent yang mengandung zat-zat asam organik dan senyawa anorganik yang memerlukan klor lebih banyak untuk proses oksidasinya. Oleh sebab itu sebelum effluent dialirkan ke bak klorida ditampung dulu di bak stabilisasi untuk memberikan kesempatan oksidasi zat-zat tersebut di atas, sehingga akan menurunkan jumlah klorin yang dibutuhkan pada proses klorinasi nanti.

Sistem Anaerobic Treatment terdiri dari komponen-komponen antara lain sebagai berikut :

a)       Pump Swap (pompa air kotor)

b)       Septic Tank (inhaff tank)

c)       Anaerobic filter.

d)       Stabilization tank (bak stabilisasi)

e)       Chlorination tank (bak klorinasi)

f)        Sludge drying bed (tempat pengeringan lumpur)

g)       Control room (ruang kontrol)

Sesuai dengan debit air buangan dari rumah sakit yang juga tergantung dari besar kecilnya rumah sakit, atau jumlah tempat tidur, maka kontruksi Anaerobic Filter Treatment Systemdapat disesuaikan dengan kebutuhan tersebut, misalnya :

a)       Volume septic tank

b)       Jumlah anaerobic filter

c)       Volume stabilization tank

d)       Jumlah chlorination tank

e)       Jumlah sludge drying bed

f)        Perkiraan luas lahan yang diperlukan

Secara singkat pengelolaan pengelolaan dan pembuangan limbah medis adalah sebagai berikut :

1.       Pengumpulan (Pemisahan Dan Pengurangan)

Proses pemilahan dan reduksi sampah hendaknya merupakan proses yang kontinyu yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan : kelancaran penanganan dan penampungan sampah, pengurangan volume dengan perlakuan pemisahan limbah B3 dan non B3 serta menghindari penggunaan bahan kimia B3, pengemasan dan pemberian label yang jelas dari berbagai jenis sampah untuk efisiensi biaya, petugas dan pembuangan.

2.       Penampungan

Penampungan sampah ini wadah yang memiliki sifat kuat, tidak mudah bocor atau berlumut, terhindar dari sobek atau pecah, mempunyai tutup dan tidak overload. Penampungan dalam pengelolaan sampah medis dilakukan perlakuan standarisasi kantong dan kontainer seperti dengan menggunakan kantong yang bermacam warna seperti telah ditetapkan dalam Permenkes RI no. 986/Men.Kes/Per/1992 dimana kantong berwarna kuning dengan lambang biohazard untuk sampah infeksius, kantong berwarna ungu dengan simbol citotoksik untuk limbah citotoksik, kantong berwarna merah dengan simbol radioaktif untuk limbah radioaktif dan kantong berwarna hitam dengan tulisan “domestik”

3.       Pengangkutan

Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan intenal dan eksternal. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke tempat pembuangan atau ke incinerator (pengolahan on-site). Dalam pengangkutan internal biasanya digunakan kereta dorong sebagai yang sudah diberi label, dan dibersihkan secara berkala serta petugas pelaksana dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian kerja khusus.

Pengangkutan eksternal yaitu pengangkutan sampah medis ketempat pembuangan di luar (off-site). Pengangkutan eksternal memerlukan prosedur pelaksanaan yang tepat dan harus dipatuhi petugas yang terlibat. Prosedur tersebut termasuk memenuhi peraturan angkutan lokal. Sampah medis diangkut dalam kontainer khusus, harus kuat dan tidak bocor.

4.       Pengolahan dan Pembuangan

Metoda yang digunakan untuk megolah dan membuang sampah medis tergantung pada faktor-faktor khusus yang sesuai dengan institusi yang berkaitan dengan peraturan yang berlaku dan aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap masyarakat. Teknik pengolahan sampah medis (medical waste) yang mungkin diterapkan adalah :

a.    Incinerasi

b.    Sterilisasi dengan uap panas/ autoclaving (pada kondisi uap jenuh bersuhu 121 C)°

c.    Sterilisasi dengan gas (gas yang digunakan berupa ethylene oxide atau formaldehyde)

d.    Desinfeksi zat kimia dengan proses grinding (menggunakan cairan kimia sebagai desinfektan)

e.    Inaktivasi suhu tinggi

f.      Radiasi (dengan ultraviolet atau ionisasi radiasi seperti Co60

g.    Microwave treatment

h.    Grinding dan shredding (proses homogenisasi bentuk atau ukuran sampah)

i.      Pemampatan/pemadatan, dengan tujuan untuk mengurangi volume yang terbentuk.

5.       Incinerator
Beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila incinerator akan digunakan di rumah sakit antara lain: ukuran, desain, kapasitas yang disesuaikan dengan volume sampah medis yang akan dibakar dan disesuaikan pula dengan pengaturan pengendalian pencemaran udara, penempatan lokasi yang berkaitan dengan jalur pengangkutan sampah dalam kompleks rumah sakit dan jalur pembuangan abu, serta perangkap untuk melindungi incinerator dari bahaya kebakaran.

Keuntungan menggunakan incinerator adalah dapat mengurangi volume sampah, dapat membakar beberapa jenis sampah termasuk sampah B3 (toksik menjadi non toksik, infeksius menjadi non infeksius), lahan yang dibutuhkan relatif tidak luas, pengoperasinnya tidak tergantung pada iklim, dan residu abu dapat digunakan untuk mengisi tanah yang rendah. Sedangkan kerugiannya adalah tidak semua jenis sampah dapt dimusnahkan terutama sampah dari logam dan botol, serta dapat menimbulkan pencemaran udara bila tidak dilengkapi dengan pollution control berupa cyclon (udara berputar) atau bag filter (penghisap debu). Hasil pembakaran berupa residu serta abu dikeluarkan dari incinerator dan ditimbun dilahan yang rendah. Sedangkan gas/pertikulat dikeluarkan melalui cerobong setelah melalui sarana pengolah pencemar udara yang sesuai.

5.       Penanganan dan Metode Pengolahan Limbah Rumah Sakit pada Farmasi yang Paling Efektif dan Aman

Dalam pengelolaan limbah padat baik medis maupun non medis, rumah sakit diwajibkan melakukan pemilahan limbah dan menyimpannya dalam kantong plastik yang berbeda beda berdasarkan karakteristik limbahnya. Limbah domestik di masukkan kedalam plastik berwarna hitam, limbah infeksius kedalam kantong plastik berwarna kuning, limbah sitotoksic kedalam warna kuning, limbah kimia/farmasi kedalam kantong plastik berwarna coklat dan limbah radio aktif kedalam kantong warna merah.

Disamping itu rumah sakit diwajibkan memiliki tempat penyimpanan sementara limbahnya sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam Kepdal 01 tahun 1995. Dalam hal ini banyak fakta yang dapat kita temukan bahwa penanganan limbah medis lebih dominan menggunakan system inceneration, karena dari segi biaya lebih murah selain itu dapat mengurangi massa dan volume sehingga untuk penanganan berikutnya menjadi lebih mudah. Limbah dapat ditangani dalam waktu yang relatif lebih singkat daripada pengolahan secara biologi maupun sistem landfill dan area yang dibutuhkan relatif lebih kecil.

Pengelolaan limbah dengan menggunakan incinerator harus memenuhi beberapa persyaratan seperti yang tercantum dalam Keputusan Bapedal No 03 tahun 1995. Peraturan tersebut mengatur tentang kualitas incinerator dan emisi yang dikeluarkannya. Incinerator yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai penghancur limbah B3 harus memiliki efisiensi pembakaran dan  efisiensi penghancuran / penghilangan (Destruction Reduction Efisience) yang tinggi.

           


                                                                                      Gambar alat insenerator

 

  1. Prinsip Kerja Incenerator

Proses insenerasi akan berlangsung melalui 3 tahapan, yaitu:

a.         Tahapan pertama adalah  limbah atau sampah dalam sampah menjadi uap air, hasilnya limbah menjadi kering dan siap terbakar.

b.         Selanjutnya terjadi proses pirolisis, yaitu pembakaran tidak sempurna, dimana temperature belum terlalu tinggi.

c.         Fase berikutnya adalah pembakaran sempurna. Ruang bakar pertama digunakan sebagai pembakar limbah, suhu dikendalikan antara 400 C ~ 600 C. Ruang bakar kedua digunakan sebagai pembakar asap dan bau dengan suhu antara antara 600 C ~ 1200 C.

Suplay oksigen dari udara luar ditambahkan agar terjadi oksidasi sehingga materi-materi limbah akan teroksidasi dan menjadi mudah terbakar, dengan terjadi proses pembakaran yg sempurna, asap yg keluar dari cerobong menjadi transparan.

Proses Insinerator :

Insinerator dilengkapi mesin pembakar dengan suhu tinggi yang dalam waktu relative singkat mampu membakar habis semua sampah tersebut hingga menjadi abu. Pembakaran sampah ini digunakan dengan sistem pembakaran bertingkat (double chamber), sehingga emisi yang melalui cerobong tidak berasap dan tidak berbau, dan menggunakan sitem cyclon yang pada akhirnya hasil pembakaran tidak memberikan pengaruh polusi pada lingkungan.

Keseluruhan kinerja incinerator yang saat ini diterapkan di beberapa negara maju dapat dibagi pada beberapa tahapan proses yaitu :

1.       Proses penyimpanan sampah dan pengumpanan sampah

2.       Proses pembakaran;

3.       Proses penanganan sisa pembakaran;

4.       Proses pembersihan asap

 Skema Pengolahan Limbah Farmasi Rumah Sakit Dengan Insenerasi

          Dalam ruang bakar utama proses karbonisasi dilakukan dengan “ defisiensi udara “ dimana udara yang dimasukkan didistribusikan dengan merata kedasar ruang bakar untuk membakar karbon sisa. Gas buang yang panas dari pembakaran, keluar dari sampah dan naik memanasinya sehingga mengasilkan pengeringan dan kemudian membentuk gas-gas karbonisasi. Sisa padat dari pembentukan gas ini yang sebagian besar terdiri atas karbon, dibakar selama pembakaran normal dalam waktu pembakaran. Pada ruang bakar ini secara terkontrol dengan suhu 800 – 1.0000C dengan sistem close loop sehingga pembakaran optimal. Distribusi udara terdiri dari sebuah blower radial digerakan langsung dengan impeller, dengan casing almunium  dan motor listrik, lubang masuk udara dari pipa udara utama didistribusikan ke koil.

Ruang Bakar Tingkat Kedua :

Ruang bakar tingkat kedua dipasang diatas ruang bakar utama dan terdiri dari ruang penyalaan dan pembakaran, berfungsi membakar gas-gas karbonisasi yang dihasilkan dari dalam ruang bakar utama. Gas karbonisasi yang mudah terbakar dari ruang bakar utama dinyalakan oleh Burner Ruang Bakar Dua, kemudian dimasukan udara pembakar, maka gas-gas karbonisasi akan terbakar habis. Ruang Bakar Dua bekerja seperti sebuah after burner, yaitu mencari, gas-gas yang belum terbakar kemudian membawanya kedalam temperatur lebih tinggi sehingga terbakar sampai habis, dimana suhunya mencapai 1.100 0C dengan sistem close loop sehingga optimal. Pemasukan sampah ke ruang pembakaran dilakukan secara manual atau menggunakan lift conveyor.

Panel Kontrol Digital :

Diperlukan suatu panel kontrol digital dalam operasionalnya untuk setting suhu minimum dan maksimum didalam ruang pembakaran dan dapat dikontrol secara “ automatic “ dengan sistem close loop. Pada panel digital dilengkapi dengan petunjuk suhu, pengatur waktu (digunakan sesuai kebutuhan), dan dilengkapi dengan tombol pengendali “burner dan “blower” dengan terdapatnya lampu isyarat yang memadai dan memudahkan operasi.

Cerobong Cyclon :

Cerobong cyclon dipasang setelah ruang bakar dua, yang bagian dalamnya dilengkapi water spray berguna untuk menahan debu halus yang ikut terbang bersama gas buang, dengan cara gas buang yang keluar dari Ruang Bakar Dua dimasukan melalui sisi dinding atas sehingga terjadi aliran siklon di dalam cerobong. Gas buang yang berputar didalam cerobong siklon akan menghasilkan gaya sentripetal, sehingga abu yang berat jenisnya lebih berat dari gas buang akan terlempar kedinding cerobong siklon. Dengan cara menyemburkan butiran air yang halus kedinding, maka butiran-butiran abu halus tersebut akan turun kebawah bersama air yang disemburkan dan ditampung dalam bak penampung. Bak penampung dapat dirancang tiga sekat, dimana pada sekat pertama berfungsi mengendapkan abu halus, pada bak selanjutnya air abu akan disaring, dan air ditampung dan didinginkan pada sekat ketiga, siap untuk dipompakan ke cerobong siklon kembali. Dengan pembakaran sampah secara sempurna temperatur operasi relatif lebih tinggi, relatif lebih kecil hidrokarbon yang lolos ke luar cerobong, dan asap berwana bening, sehingga emisi dari gas buang tersebut ramah terhadap lingkungan.

PEMBUKUAN SECARA KOMPUTERISASI

Pengertian Komputerisasi Akuntansi dapat digambarkan sebagai sistem akuntansi yang menggunakan sistem komputer dan perangkat lunak akuntansi...